Tips Membawa Anak Saat Mendaki Gunung

Posted on

Bertemu lagi dengan kami di kesempatan hari ini yang akan membahasa mengenai tips membawa anak saat mendaki gunung yang tentu tidak kalah penting dari pembahasan sebelumya. Nah pembaca yang budiman, tips membawa anak saat mendaki gunung ini kami kutip dari halaman facebook Drh Nyomie dengan harapan agar tips membawa anak saat mendaki gunung miliknya ini dapat semakin bermanfaat untuk kita semua.

Baiklah mari kita simak seperti apa selengkapnya tips membawa anak saat mendaki gunung di bawah ini. Selamat membaca.

Tips Membawa Anak Saat Mendaki Gunung
Tips Membawa Anak Saat Mendaki Gunung

Pertama kali membawa Max mendaki bromo di usia 5bln, ‘gila’ adalah komentar pertama yg kudapatkan.

Hmm… mungkin ya tapi bukan tanpa perencanaan. Keinginan mendaki gunung telah 3th terkubur dalam ketika harus terpicu dg beban berat emosi yg harus kupikul sendirian saat itu. Okelah… ‘galau’ istilah bekennya. Tapi kembali ke bromo adalah titik balik kembali mendapat esensi kehidupan berjuang untuk bertahan, obsesi namun tidak mengalahkan akal sehat, aku ingin anakku bangga pada ibunya walau harus meninggalkan ayahnya, dia punya seseorang yg (nyaris) mampu melakukan banyak hal untuk memperjuangkan hidupnya.

Batur, Prau (dieng), Sikunir (dieng), namun ketika nyaris menembus ketinggian 3000mdpl di gn. Agung sampai ke puncak Rinjani setelah merasakan dinginnya Ijen dan menginap di Papandayan, pasti tidak sedikit yang beranggapan aku ‘konyol’ karena membawa  anak dalam suasana ekstrim dan tidak nyaman dalam arti aku juga seakan sedang mempertaruhkan nyawa anak sendiri.

Apakah begitu?!

Intuisi terkuat hanya dimiliki orang tua kandung untuk menentukan kapan dan usia berapa saat yang tepat untuk seorang anak dikenalkan kepada alam

Hanya seorang ibu yg mampu menilai dengan detil karakter anaknya dan tahapan pengenalan terhadap alam harus dimulai dengan tidak ‘overprotective’. Biarkan anak menyentuh rumput, merasakan udara segar selain ac, namun harus biasakan juga merasakan panas matahari, karena saat terik dilapangan pun tidak ada ac dan kita tidak bisa memilih kondisi apa yang kita hadapi nanti. Jadi orang tua harus mengerti dengan detil ambang keresahan sang anak terhadap perubahan suhu dan bagaimana mengatasinya. Hal ini bisa dilakukan dirumah, di halaman rumah, di taman sebelum mencoba membawa anak ke tempat sejuk.

Mom menyadari Max tidak suka mall dan keramaian seperti ibunya, dia lebih nyaman melihat pemandangan lepas dan bisa tertawa riang melihat bayangan sendiri dan dahan yang bergoyang. Bahkan saat di mall max tak henti menggenggam tangan orang yg dikenalnya karena takut orang asing. Lalu bagaimana di hutan? Ketika pertama melepas max jalan sendiri di setapak menuju segara anak jelas terasa waswas, tapi tak sedikitpun dia berkeinginan keluar dari setapak, keinginannya mendaki  tempat tinggi mungkin sudah tampak tapi bisa dikendalikan. Saat itulah aku menyadari… aku tak salah membawanya ke alam lebih cepat. logika sederhananya begini saja, kalo memang dingin itu berbahaya mengapa orang dikutub bisa punya anak dan membesarkan disana? yaaa… proses adaptasi itu sangat penting

Lakukan secara bertahap

Jangan terlalu extrim berharap anak bisa langsung diajak mendaki.  Max mendapati dirinya merasakan dinginnya pegunungan dalam waktu relatif singkat saat pertama kali mendaki bromo.

Cobalah perjalanan mendaki 1-2jam di daerah perbukitan lalu berikutnya perjalanan yg range waktunya lebih panjang. setelah mencoba bermalam di papandayan dan Max tetap bisa merasa nyaman malah tidurnya lebih nyenyak, barulah memberanikan diri ke Rinjani yang ternyata saat itu di bulan November tidak sedingin dieng dan ijen

Pemilihan destinasi , waktu, dan cuaca

Ini terkait lamanya perjalanan menuju lokasi, transportasi apa yang digunakan untuk menuju lokasi, apakah anak akan nyaman dalam perjalanan atau malah gelisah karena terlalu lelah dan bosan diperjalanan jg akan memicu masalah di lapangan. Usahakan lokasi tujuan bisa ditempuh dengan cara yg singkat.

Seperti contoh, max lebih mudah dialihkan perhatiannya di dalam pesawat dengan mainan atau malah lebih nyaman menggunakan kereta ketimbang naik bis/mobil berjam-jam.  Bawalah mainan yg ringkas dan sangat disukai untuk mengalihkan perhatian saat gelisah, susu dan perbekalan makanan harus juga berada dilokasi mudah terjangkau saat perjalanan.

Lamanya menginap di lapangan akan terkait apa yg harus dibawa dan berapa banyak jumlahnya, selain logistic, jumlah popok dan sebaiknya disurvey terlebih dahulu bagaimana kondisi cuaca di gunung hari2 sebelum pendakian sehingga bisa diperkirakan brp banyak baju yg hrs disiapkan utk bayi supaya tidak kekurangan.  Jumlah popok saat cuaca hujan dan panas yg dibutuhkan berbeda2, ada bayi yg bisa menunggu popok penuh ada yg tidak, ada yang bisa tahan tanpa popok, bawalah sedikit lebih dari perkiraan karena tak mungkin mencari popok di gunung kan?!

Pergilah dengan tim, memiliki anggota yg menguasai lapangan dan ada seorang yang mampu menjadi leader

Mendaki menggendong bayi bukan untuk gagah-gagahan, bila tidak mampu menggendong seorang diri realistislah untuk menggendong bergantian. Gunakan kid carrier khusus untuk mendaki yang memiliki rangka besi untuk menjaga keamanan punggung dan tulang belakang, kecuali ketika berat masih dibawah 7kg seperti saat max 5bln masih nyaman menggunakan baby carrier biasa.

Bawalah beban yg realistis juga sesuai kemampuan. Bila tidak memungkinkan  mengurangi beban pertimbangkan untuk menggunakan jasa porter krn membawa bayi harus mempertimbangan kondisi senyaman mungkin utk bayi dan keluarga.

Cuaca gunung sangat mudah bisa berubah, kondisi fisik dan alam juga bisa memicu pendaki terlibat dalam suasana ekstrim di perjalanan. Itulah mengapa dibutuhkan seorang leader yang bisa berpikir dan bergerak cepat sesuai kebutuhan tanpa harus panik. Menjaga jumlah anggota tim tetap dalam jumlah sama tidak terpisah2. Idealnya jumlah anggota tim itu 4-5orang, membawa bayi dalam open trip puluhan orang tidak disarankan karena jumlah orang banyak akan memecah perhatian.

Contoh? Bagaimana bila ada salah satu tim terkilir memperlambat perjalanan? Bagaimana bila perjalanan terlambat sampai di titik seharusnya ngecamp, atau terjebak cuaca buruk? Seperti hujan, badai, kebakaran? Belum lagi bagaimana bila bayi gelisah, sakit atau menangis terus? Bahkan pada orang dewasa fisik yg tidak siap memicu emosi dan pertengkaran krn terlalu lelah.

Yang jadi pertanyaaan banyak orang apakah mommy Max menggendong Max seorang diri sampai puncak? Jawabannya ya dan tidak. Sebenernya obsesi awal begitu tapi akhirnya hanya di Bromo dan gunung Batur saat berat max masih 9kg mom menggendong max sendirian di trek berpasir sampai puncak dan turun juga. Memang sangat sulit apalagi menembus ketinggian puncak batur yang berpasir, alhasil lumayan turun perlahan agak lemes kakinya. Setelah itu pendakian selanjutnya mendapat bantuan karena kid carrier max memang sebenarnya sangat nyaman. namun berbeda dengan menggendong carrier 80-90lt, yang ini ga bisa diambrukin begitu saja kalau kelelahan dan khusus Max dia ga suka berhenti lama sudah sejak pertama mendaki umur 5bln, pasti akan menendang-nendang yang gendong. Hehe…

Food and water Management

Bayinya makan apa dan minumnya bagaimana? bawa berapa banyak susu?

Pentingnya mengetahui medan adalah tau apakah sumber air mudah didapat atau tidak, dan ketinggian mana air terakhir di dapat. Termos air hangat penting, tp usahakan bayi juga mau minum susu dalam air dingin, susu formula pada umumnya mampu larut merata dalam air normal dan tidak menggumpal. Siapkan dot bayi lebih dari 2, atau bawalah dot cadangan untuk mengantisipasi anak jenuh merusak dot atau bahkan seperti Max yg botolnya digigit tikus saat di pelawangan sembalun rinjani, belum lagi jenuhnya perjalanan memungkinkan anak melempar botol susunya tanpa diketahui tim. Tak usah bawa susu sekaleng, bila perjalanan 2-3hr masih mungkin susu untuk di repack kedalam sachet2 tapi bila lebih dari 3hari susu yg sudah dibuka bisa teroksidasi/basi, sehingga saat penyediaan tak perlu menakar tinggal cemplung satu sachet ke dalam satu botol sehingga lebih praktis. Akan lebih mudah bila dia juga menyukai susu kotak2 kecil. Sediakan jenis minuman lain yang digemari seperti teh dan jus dalam jumlah cukup.

Bagaimana dengan makanan? Sebelum perjalanan tentukan beberapa jenis  bubur bayi instan yg paling disukai anak, sediakan berbagai rasa, termasuk snack2 biskuit berbagai jenis yang kalorinya cukup. Namun tetap diusahakan makanan instan hanya dimakan saat perjalanan siang hari karena pagi dan malam bisa memasak, usahakan tetap membuat bubur sendiri atau sup.

walaupun anak anda belum bisa berjalan sendiri, kalori besar dibutuhkan cukup untuk menjaga dirinya tetap hangat, jadi biarkan dia makan biscuit atau minum saat perjalanan  digendong supaya tidak jenuh.

In case emergency ; p3k harus selengkap mungkin

P3k itu wajib hukumnya, jangan meremehkan  walaupun selalu berharap tidak pernah digunakan. Lebih baik antisipasi…

Karena Max alergi terhadap minyak2an jadi terpaksa mengeliminasi minyak kayu putih/telon dari cek list tapi penting dibawa obat/balsam hangat utk antisipasi keseleo/kram, ga lucu kan kalo anaknya sehat eh ortunya malah cidera.

Emergency blanket yg tipis spt aluminium foil itu berguna bgt menjaga tetep hangat, kalau mau lebih nyaman lagi bisa dengan sleeping bag 3layer atau isi bulu angsa.

Obat-obatan penting yang slalu dibawa Max saat perjalanan antara lain obat mabuk perjalanan (antim*), obat flu (neoz*p), obat diare dan keracunan (diat*b), antiradang (d*xamethasone), obat herbal kembung masuk angin (tolak ang*n), vitamin c (est*r c), penurun panas (pr*ris), antimuntah (primp*ran), nose drop pelancar nafas, madu, salep luka, alcohol, kasa steril, kapas. Penting diingat orang tua harus tau cara penggunaan dan indikasi obat-obat yang dibawa. Microl*x hampir lupa padahal sangat wajib karena bayi paling gelisah kalo ga bisa pupup.

Sediakan juga sunblock, krim antigatal, obat antipendarahan (tr*nsamin), antinyeri/sakit kepala (panad*l), vitamin penghilang pegal juga bisa dibawa untuk orangtua.

Making Checklist is a must

barang yang perlu di bawa puluhan item banyaknya, perlengkapan pribadi, perlengkapan kelompok, perlengkapan bayi, dll.  buatlah catatan yang saat sudah tersedia dan masuk tas tinggal dicentang.

Tingkat dingin lokasi menentukan jumlah baju yang harus dibawa.

Seperti saat max ke bromo krn masih sangat bayi 5bln max mengenakan baju dalem  terusan, lapis kaos, lapis baju flannel lengan panjang, baru diluar jaket tebal dengan tutup kepala, sedangkan celana terusan kaoskaki, dilapis 2 kaoskaki tebal, luar celana bahan, sepatu. Kepala menggunakan kupluk tebal, earmuff dan syal lebar untuk menghindari debu/pasir bromo.

ohya karena sulit mencari sarung tangan bayi, persiapkan jaket yang berukuran lebih besar tidak mudah lembab untuk menutupi tangan sampai ujung jarinya karena prinsip menghangatkan tubuh yang kedinginan adalah kepala ditutup sampai telinga dengan kupluk bisa, sekeliling leher, telapak tangan, kaki, kalau bisa wajah. kalau point2 itu sudah terlindungi untuk tubuh dan tidak lembab, pakaian tidak harus tebel banget pasti sudah terasa cukup hangat.

Semakin besar usia anak makin mudah beradaptasi tidak terlalu banyak lapisan baju yg dikenakan sehingga makin sedikit baju yg hrs dibawa, namun harus dipertimbangkan bila baju/kaos kaki menjadi lembab atau basah harus ada baju cadangan yang cukup.  Untuk ketinggian puncak gunung berpasir menyediakan syal lebar sgt penting krn kebanyakan bayi tidak suka dipakaikan masker. Syal jg berguna untuk menyembunyikan wajah saat ia kedinginan.

Best packing way you ever done

Yeah, kamu harus jago packing karena perlengkapan bayi itu pasti lebih banyak tanpa mengurangi safety diri sendiri jadi barang pribadi untuk dewasa juga harus cukup. Bawalah barang2 praktis, alat makan minimalis bisa dilipat, mudah dicuci. Termos minimalis, dan botol susu minimal 3. Kalau alat kelompok tenda dan alat masak pasti para pendaki cukup paham detilnya, yang harus diperhatikan juga menu makanan harus cukup gizi ga cuma mie instan terutama untuk yang menggendong bayi.

Alat makan, mandi, dsb dipacking dalam kemasan/botol2 kecil untuk menghemat space sesuaikan dengan kebutuhan lama perjalanan. jangan lupa sedia tissue basah dan tissue kering, kantung plastic sebanyak mungkin untuk menyimpan sampah. Dan packing barang2 dalam plastik2 kecil dari yang paling jarang digunakan sampai paling sering dibagian terluar, seimbangkan kiri kanan. Antisipasi cuaca haruslah membawa jas hujan dan payung, namun berhati2lah angin kencang payung mudah sekali terbang.

Untuk pakaian yg mengembang seperti jaket untuk udara dingin bisa digulung2 dan ikat dengan karet. Biasanya max n mom dalam perjalanan hanya menggunakan kemeja flannel dengan daleman karena pasti keringetan, kecuali harus berhenti lama di tengah perjalanan tidak disarankan mengeluarkan jaket2 tebal. Wajib packing itu baju tidur dan kaus kaki kering khusus untuk tidur selain nanti juga masukkan bayi dalam sleeping bag tebal triple layer atau bulu angsa lebih baik tapi harga ya sesuaikan kemampuan jg.

On the way… Jangan terobsesi, jangan sombong, gunakan akal sehat  dan sesuaikan kondisi lapangan

Berpikir jernih itu penting seletih apapun tubuh dan seekstrim apapun cuaca yang dihadapi. Bila membawa bayi apalagi harus sesuaikan kondisi, bila tak mampu jalan terus ya berhenti atau putuskan untuk turun pada saat cuaca membaik. Pikirkan bayi… walaupun kita mampu sampai puncak, kalau kondisi bayi tidak memungkinkan ya hentikan pendakian. Seperti contoh ketika di gunung agung trek ke puncak tinggal sejam perjalanan lagi namun penuh batu besar dan pasir yang longgar, tentu saja ini tidak aman untuk max, menggendong bayi tidak bole terjatuh jadi saat itu kami putuskan stop dan turun, karena membawa beban berat lebih mudah tergelincir.

Belum lagi kecelakaan mungkin terjadi saat gunung ramai adalah menjadi korban runtuhan batu bila pendaki diatas kita lengah dan tergelincir. Tau cara berjalan yg mantap dan menjejak tanah tanpa menyebabkan tergelincir juga sangat penting, selain pentingnya menggunakan sepatu nyaman dengan sol yang dalam. Gunakan kayu atau trekking pole saat medan berpasir akan sangat membantu.

Ketika di rinjani yang saat itu agak sepi saja dari segaraanak menuju pelawangan senaru mom nyaris kejatuhan batu dari tebing di atas trek, nyaris tidak terdengar runtuhannya untungnya sadar dan cepat berlari. Waspada itu sangat penting, pastikan kondisi tubuh fit dan alert terhadap perubahan cuaca dan suara lingkungan. Akan lebih baik jika menguasai navigasi terutama untuk gunung yang tidak terlalu ramai dan minim keterangan penunjuk jalan.

Dan… sehebat apapun seorang pendaki, setinggi apapun jam terbangnya  Janganlah sombong. sombong memicu lengah, jangan biarkan satupun anggota tim terpisah hanya karena satu lebih hebat dari yang lain, satu lebih kuat ataupun yang lain lebih lemah. Jangan ditinggal!!! Biarlah lambat dan nikmatilah perjalanan… esensi mendaki mungkin mencapai tujuan tapi selamat dan sehat sampai rumah itu lebih penting.

Tapi sadari juga batas kemampuan tubuh, jangan paksakan diluar kemampuan. Kenali tanda2 tubuh hipotermi, hipoksia, shock, dsb. Begitu juga dengan bayi akan terlihat jelas ketika anak mulai gelisah dan wajah pucat karena suhu terlalu dingin, lapar, haus, buang air, dsb. Cepatlah bertindak tanpa gegabah karena panik akan mengacaukan.  Ingatlah prinsip search and rescue (SAR) pastikan keselamatan diri sebelum menyelamatkan orang lain, jangan sampai berusaha menyelamatkan tapi malah ikut direscue.

Apakah max sehebat itu menghadapi dingin? Apakah tidak pernah ada masalah selama perjalanan? Tentu saja tidak. Subuh di puncak prau dan ijen adalah kondisi dingin terekstrim yang dilalui max. apakah mom panic? Di ijen kami mencari celah tanah terlindung angin dan menutup max dengan emergency blanket yang ringan supaya dia masih bisa tertidur nyenyak. Begitupula di prau max memilih tidur sampai jam 9 baru senang berfoto di hamparan daisy. Jadi saran mom, janganlah mengejar sunrise karena suhu menjelang pagi di gunung terlalu ekstrim.

Keep taking pictures and leave nothing

Jaman dulu mommy max pertama mendaki masih belum punya perlengkapan serba digital, sekarang sedikit2 orang update n selfie2 di gunung. Banyak plus minus krn smakin diekspose makin banyak yang mendaki, makin bnyk yg dengan persiapan alakadar, asal jalan, obsesi boleh tapi jangan pertaruhkan nyawa dan tolong jaganya tetap bersih.

Wajar kan mom ini juga slalu ketat urusan buang sampah bahkan sampe puntung rokok aja yang dibuang  bisa maki2 orang. Makanya ketika foto2 pendakian max dishare besar2an di IG, mom langsung ketarketir mikir pendaki2  keluarga muda langsung ingin meniru hanya karena terlihat keren. Jangan sampe deh amit2 setor nyawa bayi orang ke gunung hanya karena mereka meniru tanpa bekal yang cukup.

Awalnya mom hanya ingin max bangga suatu saat mungkin ketika sudah bisa mendaki sendiri, dia punya kehebatan kebanggaan tersendiri melihat foto kanak2nya, kenangan menjadi anak berbeda, cinta alam dan hewan harus terus berlanjut sampai dewasa dan diturunkan kembali ke anak cucu supaya alam juga tetap seimbang terjaga. Semoga puncak2 dan keindahan itu tetap terjaga tidak berubah puluhan dan ratusan tahun ke depan.

PENUTUP – Baiklah karna seluruh tips membawa anak saat mendaki gunung sudah tersampaikan sudah saatnya kami untuk mengahkhiri pembahasan tips membawa anak saat mendaki gunung. Semoga informasi tips membawa anak saat mendaki gunung diatas dapat mempermudah perjalanan anda mendaki gunung ersama si kecil. Terimakasih sudah berkunjung dan sampai jumpa lagi di kesempatan dan pembahasan lainnya.